Polisi Sudah Periksa 5 Saksi Terkait Kasus Dugaan Pencabulan Mahasiswi UIN Raden Intan Lampung
Info terkini mengenai "Polisi Sudah Periksa 5 Saksi Terkait Kasus Dugaan Pencabulan Mahasiswi UIN Raden Intan Lampung-#nh9wqp" pada Kamis Januari , ayuk baca lengkapnya :

Laporan Wartawan Tribun Lampung, Hanif Risa Mustafa

news.xcoid.com, BANDAR LAMPUNG Kasus dugaan pelecehan seksual yang menimpa mahasiswi Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung masih bergulir.

Ayuk baca kata-kata bijak dan motivasi ( Kamis , Januari 2019 )

iri hati, selain membawa penderitaan, juga menjerumuskan manusia ke jurang permusuhan bahkan peperangan.


Dalam dua hari, Subdirektorat IV Remaja, Anak, & Wanita Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Lampung memeriksa total lima saksi. Kepala Subdit IV Renakta Ditreskrimum Polda Lampung Ajun Komisaris Besar I Ketut Seregi membenarkan adanya pemeriksaan terhadap saksi-saksi dalam kasus tersebut. "Benar. Kemarin (Selasa, 8/1/2019) _ada pemeriksaan (saksi-saksi)," kata Ketut di polda, Rabu_ (9/1/2019).

Dalam pemeriksaan itu, ujar Ketut, pihaknya meminta keterangan ke-pada dua saksi. Tapi Ketut tak menyebut siapa dua saksi itu.

Baca: Kena Semprot Polisi Bahas 45 Artis Terlibat Prostitusi, Billy Syahputra: Gue Mah Salah Aja

Selain dua saksi, pihaknya pula telah meminta keterangan kepada pelapor berinisial E pd_ Selasa. "Pelapor sudah kami mintai keterangan, berikut dua saksi," ujarnya. Agenda pemeriksaan sesudah berlanjut pada Rabu (9/1/2019).


Ketut menerangkan, pihaknya meminta keterangan ke-pada tiga saksi. Dua saksi di antaranya merupakan ketua & sekretaris jurusan lokasi terlapor mengajar. Terlapor ialah oknum dosen berinisial SH.

Sementara satu saksi lainnya merupakan gubernur Badan Eksekutif Mahasiswa tingkat fakultas di UIN Raden Intan. "Hari ini (Rabu, 9/1/2019) kami panggil kajurnya utk meminta keterangan.


Sekjurnya juga kami mintai keterangan," kata Ketut. Adapun permintaan keterangan terhadap gubernur BEM, menurut Ketut, lantaran yang bersangkutan tergolong di antara sejumlah mahasiswa yang menyuarakan kasus ini. "Jadi kan sebelum (pelapor) melapor, ktua (gubernur) BEM sempat menyuarakan kasus ini. Makanya, kami mintai klarifikasi," ujarnya.

Ayuk baca kata-kata bijak dan motivasi ( Kamis , Januari 2019 )

Ketika amarah memuncak, bersabar adalah pilihan terbaik. Marah tidak akan menyelesaikan masalah dan mengalah bukan berarti kalah.

Pengacara pelapor dari Lembaga Advokasi Wanita Damar, Meda Damayanti, membenarkan polisi telah meminta keterangan kepada kliennya. Dia memastikan pelapor menjalani pemeriksaan dengan pendampingannya. "Ya, semalam (Selasa, 8/1/2019) kami ke polda.

Agendanya, pemeriksaan pelapor," ujarnya melalui ponsel, Rabu_ (9/1/2019).
Ayuk baca kata-kata bijak dan motivasi ( Kamis , Januari 2019 )

Jangan berjalan dimuka bumi dengan penuh kesombongan dan congkak karena sebentar lagi engkau akan masuk kedalam bumi juga.

Meda menjelaskan, kehadiran dirinya bertujuan melakukan pendampingan ke-pada pelapor. "Kemarin hanya ditanyakan soal kronologi (terjadinya dugaan pencabulan)," katanya.

Ia pula membenarkan bahwa selain pelapor, polisi meminta keterangan ke-pada dua saksi. "Saksi ada dua orang (Selasa, 8/1/2019)," kata Meda. "Sama, (ditanya) seputar kronologi. (Kedua saksi selaku) yang mendengar cerita," imbuhnya.

Terkait langkah selanjutnya sesudah permintaan keterangan terhadap pelapor & lima saksi, Kasubdit IV Renakta Ditreskrimum Polda Lampung AKBP I Ketut Seregi tidak berkomentar banyak.


"Setelah pemeriksaan, bakal berkembang," katanya. Sementara Meda Damayanti, pengacara pelapor, menjelaskan, pihaknya bakal memperkuat bukti dugaan tindak asusila tersebut. "Selanjutnya, kami akan melengkapi saksi-saksi utk menguatkan bukti," ujarnya. Dugaan Asusila
Dunia pendidikan tinggi di Lampung kembali digoyang kasus dugaan pelecehan seksual.

Setelah di Universitas Lampung, kali ini kasus serupa diduga terjadi di UIN Raden Intan. Peristiwa tsb diduga terjadi pd_ Jumat, 21 Desember 2018, sekitar pukul 13.30 WIB. Kejadian berawal saat mahasiswi berinisial E hendak mengumpulkan tugas mata kuliah. Ia mendatangi ruangan dosen berinisial SH.

"Awalnya aku ngumpul tugas ke ruangan, sebagaimana mahasiswa ngumpul tugas," kata E saat diwawancarai awak Tribun Lampung di kantin kampus UIN, Jumat (28/12/2018). Namun, sesaat mengumpulkan tugas itu, E mengakui mengalami pelecehan seksual. Mulai dari dagunya dipegang, pipinya disentuh, dan lainnya.

Ia lalu melapor ke Polda Lampung dngn pendampingan Damar pada 28 Desember 2018. Laporannya tertuang dalam surat bernomor LP/B-1973/XII/2018/LPG/SPKT. Kepala Subbagian Hubungan Masyarakat UIN Raden Intan Hayatul Islam telah menyatakan pihak kampus akan mengeluarkan rilis resmi terkait kasus ini.


"Nanti pada waktunya, kami akan keluarkan rilis resmi," ujar Hayatul singkat melalui pesan WhatsApp, Minggu (6/1/2019). Dekan Mediator
Dosen SH ngga berkomentar sesaat ditanyai awak media pd_ Jumat (28/12/2018). Ia buru-buru masuk ke ruangan dekan Fakultas Ushuludin untuk menyantap makanan yang disajikan pegawai. Sementara Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Raden Intan Lampung Arsyad Sobby Kusuma menyatakan belum bisa berkomentar banyak terkait kasus dugaan pelecehan seksual yang menimpa mahasiswinya.

"Saya belum bisa (berkomentar). Ini semuanya satu pintu. Nanti, kita tunggulah utk yang terbaik," katanya. Arsyad menjelaskan, dirinya selaku dekan akan menjadi mediator dalam kasus tersebut.

Saat ini, kasus itu dalam proses komunikasi dengan pihak rektorat. "Sekarang sdng proses komunikasi dngn pimpinan. Kami mau ke dalam dulu (ruangan dekan). Kasih kami waktu," ujarnya.

Mahasiswa Aksi
Kasus dugaan pelecehan seksual terhadap mahasiswi ini terungkap ke permukaan kemudian sejumlah mahasiswa berunjuk rasa pd_ Jumat (28/12/2018). Mereka menggelar aksi solidaritas di depan Gedung Dekanat Fakultas Ushuluddin UIN Raden Intan Lampung. Dalam orasinya, perwakilan mahasiswa meminta supaya oknum dosen yang diduga melakukan pelecehan seksual diproses. Mereka menuntut pihak dekanat mengambil langkah tegas.

Kakak mahasiswi yang diduga menjdi korban pelecehan seksual menyayangkan ada oknum dosen yang berbuat asusila terhadap mahasiswinya. Dia pun meminta pihak kampus mengambil tindakan. "Ini korbannya mungkin ada banyak. Sekitar tiga org (yang diketahui).

Bahkan bisa lebih, sebab ada yang belum mengaku. Oleh Sebab Itu dari itu kami buka suara," ungkap kakak korban. Vonis 16 Bulan
Kasus dugaan pelecehan seksual yang mencuat di UIN Raden Intan Lampung ini mengingatkan pd_ kasus yang terjadi di Universitas Lampung. Chandra Ertikanto (58), dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unila, divonis satu tahun empat bulan atau 16 bulan sebab terbukti melakukan pelecehan seksual terhadap mahasiswinya.

Chandra pertama kali menjalani sidang se_cara tertutup di Pengadilan Negeri Kelas DIA Tanjungkarang pada 27 September 2018. Ia didakwa berbuat asusila terhadap mahasiswi yang sedang melakukan bimbingan skripsi kepadanya. Pada 19 November 2018, dosen Chandra dituntut _oleh jaksa penuntut umum dngn hukuman pidana dua tahun penjara. Pekan depannya, 26 November 2018, dia divonis _oleh majelis hakim dngn hukuman pidana satu tahun empat bulan atau 16 bulan. Baik JPU maupun terdakwa Chandra, menerima vonis tersebut.

Hal yang meringankan terdakwa Chandra, menurut JPU Kadek Agus Dwi Hendrawan sesaat itu, sebab Chandra belum pernh dihukum pidana sebelumnya. Selain itu, Chandra bersikap sopan selama persidangan. "(Perdamaian) ngga ada. Cuma, terdakwa mengakui semua perbuatannya dalam persidangan," kata JPU Kadek.

"Kami terima, sebab itu (vonis satu thn empat bulan) dua pertiga dari tuntutan kami (dua tahun). Tersangka pula menerima," imbuhnya. Adapun pasal pidana yang dikenakan terhadap Chandra merupakan pasal 290 ayat 1 jo pasal 64 Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Dalam surat dakwaan JPU, Chandra dijerat pasal berlapis.

Masing-masing pasal 290 ayat 1 jo pasal 64 ayat 1 KUHP terkait perbuatan cabul, dngn ancaman pidana penjara paling lama tujuh tahun. Kemudian pasal 281 ke-2 jo pasal 64 KUHP terkait pelanggaran kesusilaan, dngn ancaman pidana penjara paling lama dua thn delapan bulan.

Artikel ini telah tayang di Tribunlampung.co.id dngn judul Kasus Mahasiswi UIN Raden Intan Diduga Dicabuli Dosen: Polisi Gali Keterangan Pelapor & 5 Saksi

Mereka menggelar aksi solidaritas di depan Gedung Dekanat Fakultas Ushuluddin UIN Raden Intan Lampung. Dalam orasinya, perwakilan mahasiswa meminta agar oknum dosen yang diduga melakukan pelecehan seksual diproses.


Mereka menuntut pihak dekanat mengambil langkah tegas. Kakak mahasiswi yang diduga menjadi korban pelecehan seksual menyayangkan _ada oknum dosen yang berbuat asusila terhadap mahasiswinya. Dia pun meminta pihak kampus mengambil tindakan. "Ini korbannya mungkin ada banyak.

Sekitar tiga orang (yang diketahui). Bahkan bisa lebih, krn ada yang belum mengaku.
Ayuk baca kata-kata bijak dan motivasi ( Kamis , Januari 2019 )

Kau bisa bersembunyi dari kesalahanmu, tapi tidak dari penyesalan. Kau bisa bermain dengan dramamu, tapi tidak dengan karmamu.

Maka dari itu kami buka suara," ujar kakak korban.

Ayuk baca kata-kata bijak dan motivasi ( Kamis , Januari 2019 )

Bukan hanya banyak harta yang membuat orang merasa gembira, saat memberi dengan hati iklas dan rela juga sumber bahagia.

Vonis 16 Bulan
Kasus dugaan pelecehan seksual yang mencuat di UIN Raden Intan Lampung ini mengingatkan pd_ kasus yang terjadi di Universitas Lampung. Chandra Ertikanto (58), dosen Fakultas Keguruan & Ilmu Pendidikan Unila, divonis satu thn empat bulan atau 16 bulan karena terbukti melakukan pelecehan seksual terhadap mahasiswinya. Chandra pertama kali menjalani sidang secara tertutup di Pengadilan Negeri Kelas IA Tanjungkarang pd_ 27 September 2018. Ia didakwa berbuat asusila terhadap mahasiswi yang sedang melakukan bimbingan skripsi kepadanya.

Pada 19 November 2018, dosen Chandra dituntut _oleh jaksa penuntut umum dengan hukuman pidana dua thn penjara. Pekan depannya, 26 November 2018, dia divonis _oleh majelis hakim dngn hukuman pidana satu tahun empat bulan atau 16 bulan. Baik JPU maupun terdakwa Chandra, menerima vonis tersebut. Hal yang meringankan terdakwa Chandra, menurut JPU Kadek Agus Dwi Hendrawan sesaat itu, sebab Chandra belum pernh dihukum pidana sebelumnya.

Selain itu, Chandra bersikap sopan selama persidangan. "(Perdamaian) tidak ada. Cuma, terdakwa mengakui semua perbuatannya dalam persidangan," kata JPU Kadek.
Ayuk baca kata-kata bijak dan motivasi ( Kamis , Januari 2019 )

Ketika amarah memuncak, bersabar adalah pilihan terbaik. Marah tidak akan menyelesaikan masalah dan mengalah bukan berarti kalah.


"Kami terima, krn itu (vonis satu thn empat bulan) dua pertiga dari tuntutan kami (dua tahun). Tersangka juga menerima," imbuhnya. Adapun pasal pidana yang dikenakan terhadap Chandra merupakan pasal 290 ayat 1 jo pasal 64 Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Dalam surat dakwaan JPU, Chandra dijerat pasal berlapis.

Masing-masing pasal 290 ayat 1 jo pasal 64 ayat 1 KUHP terkait perbuatan cabul, dengan ancaman pidana penjara paling lama tujuh tahun.
Ayuk baca kata-kata bijak dan motivasi ( Kamis , Januari 2019 )

Kesempatan terbaik adalah melakukan hal yang baik untuk orang lain.

Kemudian pasal 281 ke-2 jo pasal 64 KUHP terkait pelanggaran kesusilaan, dngn ancaman pidana penjara paling lama dua thn delapan bulan.

Artikel ini telah tayang di Tribunlampung.co.id dengan judul Kasus Mahasiswi UIN Raden Intan Diduga Dicabuli Dosen: Polisi Gali Keterangan Pelapor & 5 Saksi

Pekan depannya, 26 November 2018, ia divonis _oleh majelis hakim dngn hukuman pidana satu tahun empat bulan atau 16 bulan.


Baik JPU maupun terdakwa Chandra, menerima vonis tersebut. Hal yang meringankan terdakwa Chandra, menurut JPU Kadek Agus Dwi Hendrawan saat itu, karena Chandra belum pernh dihukum pidana sebelumnya. Selain itu, Chandra bersikap sopan selama persidangan. "(Perdamaian) ngga ada.

Cuma, terdakwa mengakui semua perbuatannya dalam persidangan," kata JPU Kadek. "Kami terima, sebab itu (vonis satu tahun empat bulan) dua pertiga dari tuntutan kami (dua tahun). Tersangka pula menerima," imbuhnya. Adapun pasal pidana yang dikenakan terhadap Chandra adalah pasal 290 ayat 1 jo pasal 64 Kitab Undang-undang Hukum Pidana.

Dalam surat dakwaan JPU, Chandra dijerat pasal berlapis. Masing-masing pasal 290 ayat 1 jo pasal 64 ayat 1 KUHP terkait perbuatan cabul, dengan ancaman pidana penjara paling lama tujuh tahun. Kemudian pasal 281 ke-2 jo pasal 64 KUHP terkait pelanggaran kesusilaan, dngn ancaman pidana penjara paling lama dua thn delapan bulan.

Artikel ini telah tayang di Tribunlampung.co.id dngn judul Kasus Mahasiswi UIN Raden Intan Diduga Dicabuli Dosen: Polisi Gali Keterangan Pelapor & 5 Saksi


Demikiannlah berita hari Kamis mengenai ( Polisi Sudah Periksa 5 Saksi Terkait Kasus Dugaan Pencabulan Mahasiswi UIN Raden Intan Lampung-#nh9wqp ), info pencarian terkait berita ini, polisi,sudah,periksa,5,saksi,terkait,kasus,dugaan,pencabulan,mahasiswi,uin,raden,intan,lampung, chandra

Sumber: www*tribunnews*com/regional/2019/01/10/polisi+sudah+periksa+5+saksi+terkait+kasus+dugaan+pencabulan+mahasiswi+uin+raden+intan+lampung
Share Berita