Kisah Mahasiswa Asal Buton Kuliah Di 3 Kampus Dan 3 Negara Berbeda Bersamaan, Dapat 3 Gelar Master
Info berita hari Jumat , Maret mengenai "Kisah Mahasiswa Asal Buton Kuliah Di 3 Kampus Dan 3 Negara Berbeda Bersamaan, Dapat 3 Gelar Master-#sdvzgu" :

news.xcoid.com Apakah Anda bercita-cita kuliah di luar negeri?

Ada lebih dari satu pelajar Indonesia yang bercita-cita berkuliah di luar negeri. Entah itu S1, S2, atau malah S3. Salah satunya merupakan La Ode Marzujriban atau yang akrab dipangil Iban.


Iban ialah pemuda asal Pulau Buton, Sulawesi Tenggara dan saat ini tengah menempuh pendidikan S2 jurusan Geofisika Terapan di Universitas RWTH Aachen, Jerman. Menariknya ia mengambil program joint masters degree yang mana dia akan berkuliah di tiga kampus seketika itu juga di tiga negara berbeda & mendapatkan tiga gelar master dari kampus-kampus tersebut.

Sebenarnya apa yang dimaksud dngn joint masters degree program?

Lalu bagaimana pengalaman Iban berkuliah di tiga negara?

Simak wawancara DW dngn mahasiswa berusia 25 tahun ini.

DW: Iban bisa kamu jelaskan apa yang dimaksud dngn joint masters degree program?

Iban: Jadi program joint masters degree adalah program yang dilakukan di lebih satu kampus dengan bisa lebih dari satu gelar yang akan didapat tunggu saat lulus.

Untuk kasus saya, saya berkuliah di tiga kampus.


Kampus pertama saya akan mengambil semua mata kuliah wajib dan mata kuliah pilihan. Namun mata kuliah pilihan tsb akan menjadi mata kuliah wajib di kampus kedua dan ketiga. Hal ini demi mendapatkan gelar dari kampus-kampus tersebut. Jadi sekarang, ketika saya pindah ke kampus kedua maka yang tadinya mata kuliah pilihan di kampus pertama jadi mata kuliah wajib di kampus kedua.

Hal ini utk bisa mendapatkan gelar di kampus kedua tersebut. Begitu pun ketika transfer ke kampus ketiga.

DW: Jadi program ini mewajibkan kamu kuliah di tiga negara, negara mana sajakah itu?

Iban: Iya benar, jadi saat ini saya mengambil program joint master di TU Delft, Belanda, setelah ETH Zurich, Swiss, & sekarang aku sedang berada di kampus ketiga saya di RWTH Aachen, Jerman.

DW: Bagaimana awal mula kamu bisa memilih program ini?

Iban: Saya memang bercita-cita melanjutkan studi saya, yaitu melanjutkan S2.

Saya mendapatkan program ini mulanya selain mencari sendiri program dari masing-masing ketiga kampus tersebut juga disarankan serta diperkenalkan _oleh dosen pembimbing semasa kuliah S1 dulu.

Di samping itu ada motivasi laiin kenapa aku memilih program ini.


Ayuk baca kata-kata bijak dan motivasi ( Jumat , Maret 2019 )

Jangan pernah berputus ada jika menghadapi kesulitan, karena setiap tetes air hujan yang jernih berasal daripada awan yang gelap.

Waktu aku kecil aku senang dngn sains, saya senang membaca biografi tokoh seperti Albert Einstein, BJ Habibie, & saat dewasa aku melihat sosok ilmuwan muda yakni Pak Yogi Ahmad Erlangga sesaat itu beliau memperoleh penghargaan Bakrie Award & beliau kuliah di TU Delft. Dan ketika saya lulus sarjana, aku sangat senang bisa mendapat program ini yang bisa kuliah di lokasi ketiga tokoh-tokoh tersebut. Jadi saya ke Delft d`mna Pak Yogi Ahmad Erlangga berkuliah, saya ke ETH Zurich dimana Einstein pernh berkuliah, & sekarang saya ada di RWTH Aachen tempat dimana Pak Habibie menimba ilmu.

DW: Bagaimana pendapat keluarga tentang pencapaian kamu ini?

Iban: Sama sekali tak menyangka. Keluarga besar saya tidak menyangka. Di Buton jarang sekali ada orang yang rela kuliah jauh-jauh. Seperti saya saat ambil S1, smua kaget tahu saya bisa kuliah di Makassar.


Saya cucu pertama jadi saya ingin menunjukkan kepada mereka bahwa saya mampu. Dan sekarang saya berada di Jerman.

DW: Mengapa jurusan Geofisika Terapan yang kamu ambil?

Iban: Sebab dulu sesaat masih kuliah S1 aku kuliah jurusan Geofisika di Makassar jadi ingin aku lanjutkan.

Saya sering membaca ensiklopedia mengenai geofisika, luar angkasa, bumi, komputer. Saya jatuh cinta terhadap geofisika.


DW: Apa saja yang kamu lakukan selama menjalani program ini?

Iban: Sedikit flashback mengenai program ini, semester satu untuk mendapatkan degree kampus pertama aku di TU Delft di Belanda. Di sana kegiatan perkuliahannya banyak berkutat tentang teori fisika & matematika terapan, durasi di sana kurang lebih enam bulan atau satu semester. Kemudian di semester kedua saya lanjut mengambil degree di ETH Zurich di Swiss kurang lebih durasinya sama juga enam bulan. Di sana kami lebih berkutat tentang metode-metode numerik, inversi, hal-hal yang bersifat lapangan.


Jadi di sana kami melakukan kuliah lapangan mencari benda-benda purbakala dengan metode geofisika. Saya sempat magang di pusat riset ETH Zurich yang bekerja sama dngn berbagai badan antariksa saya mengerjakan beberapa proyek & bagi saya itu merupakan pelajaran yang sangat bagus. DW: Di kampus ketiga kamu ini, apa yang menjadi fokus sekarang?

Iban: Jadi sekarang saya sedang mengambil mata kuliah wajib untuk mengambil degree atau gelar dari RWTH Aachen.


Saat ini aktivitas saya selain mempersiapkan diri utk ujian aku juga akan mempersiapkan tesis saya. Di sini perkuliahan kami lebih difokuskan ke hal-hal seper_ti geothermal, geofisika logging, & juga pendalaman tentang meotde-metode numerik utnuk mengesktrak seperti panas bumi, migas, air tanah, dan menurut aku ini sangat menarik. Banyak orang Indonesia & presiden ketiga kita Pak Habibie pernh berkuliah di sini.
Ayuk baca kata-kata bijak dan motivasi ( Jumat , Maret 2019 )

Kecantikan hakiki bukan dari wajah, melainkan terpancar dari hati.


DW: Semoga lancar ya ujian & penyusunan tesisnya. Apa yang menjadi topik tesis kamu Iban?

Iban: Mengenai CWI, coda wave interferometry. Sebenarnya metode ini sudah beberapa thn lalu digencarkan tetapi tesis saya lebih mencari metode baru untuk melokalisasi bila ada rekahan dalam medium & medium itu bisa dari sampel batuan atau lebih besar seperti patahan dalam bumi. Contoh sederhananya misalnya teman-teman punya sebongkah batu sesudah bongkah batu itu dilewatkan gelombang kemudian diukur sesudah itu di batunya berikan rekahan setelah diberi gelombang lagi sesudah diukur lagi, tentu _ada perbedaan.


Nah yang saya lakukan merupakan tanpa menatap batuannya kita bisa mengetahui kira-kira di mana lokasi rekahannya, seberapa panjang lokalisasi rekahannya. Kemudian akan di tes di wave lab & metode yang akan saya lakukan formalasi di tesis akan saya coba implemantasikan pada laboratorium tersebut.

DW: Menurut kamu apa tantangan selama menjalani program ini?

Iban: Jika dari sisi akademik tidak ada kendala yang berarti. Namun pindah-pindahnya cukup merepotkan karena kita harus pindah negara semua diurus lagi dari awal.


Ibarat pacaran, sedang-nyaman-nyamannya tapi harus pergi. Awalnya pula depresi sebab di program ini tak ada mahasiswa Indonesia, harus adaptasi dengan perbedaan budaya mahasiswa negara-negara lain. Kalau di Jerman sendiri tantangannya itu bahasa, jikalau di luar akademik Bahasa Inggris jarang digunakan.
Ayuk baca kata-kata bijak dan motivasi ( Jumat , Maret 2019 )

Kehidupan akan membawa seseorang pada jalan yang dipilihnya. Pilihan yang tepat takkan pernah mendatangkan penyesalan.


Ayuk baca kata-kata bijak dan motivasi ( Jumat , Maret 2019 )

Jangan pernah berputus ada jika menghadapi kesulitan, karena setiap tetes air hujan yang jernih berasal daripada awan yang gelap.

Akan sangat susah jika misalnya teman-teman tidak bisa menggunakan basic bahasa Jerman. Saya pribadi ngga fasih berbahasa Jerman, karena keadaan memaksa tapi saya tahu cara memesan makanan, membayar sesuatu, atau paling urgent jika tersesat menanyakan arah.

DW: Apa rencana kamu setelah lulus nanti?

Iban: Aku ingin melanjutkan karier saya sebagai researcher, sesudah melakukan riset-riset ilmiah.


Saya pula ingin mengambil PhD dan bekerja di suatu laboratorium. Kalau kembali ke Indonesia saya berkeinginan bergabung bersama LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). (Ervan Hardoko)

(Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kisah Pemuda Buton yang Kuliah di Tiga Negara Eropa Sekaligus")

Saat ini aktivitas aku selain mempersiapkan diri untuk ujian aku juga akan mempersiapkan tesis saya. Di sini perkuliahan kami lebih difokuskan ke hal-hal seperti geothermal, geofisika logging, dan juga pendalaman tentang meotde-metode numerik utnuk mengesktrak seper_ti panas bumi, migas, air tanah, & menurut saya ini sangat menarik.


Banyak org Indonesia dan presiden ketiga kita Pak Habibie pernh berkuliah di sini. DW: Semoga lancar ya ujian & penyusunan tesisnya. Apa yang menjadi topik tesis kamu Iban?

Iban: Mengenai CWI, coda wave interferometry. Sebenarnya metode ini sudah beberapa tahun lalu digencarkan tapi tesis aku lebih mencari metode baru utk melokalisasi jikalau ada rekahan dalam medium dan medium itu bisa dari sampel batuan atau lebih besar seperti patahan dalam bumi.


Contoh sederhananya misalnya teman-teman punya sebongkah batu kemudian bongkah batu itu dilewatkan gelombang sesudah diukur kemudian itu di batunya berikan rekahan setelah diberi gelombang lagi kemudian diukur lagi, tentu _ada perbedaan. Nah yang saya lakukan ialah tanpa menatap batuannya kita bisa mengetahui kira-kira di mna lokasi rekahannya, seberapa panjang lokalisasi rekahannya. Kemudian bakal di tes di wave lab & metode yang akan aku lakukan formalasi di tesis bakal saya coba implemantasikan pd_ laboratorium tersebut.

DW: Menurut kamu apa tantangan selama menjalani program ini?

Iban: Bila dari sisi akademik tak ada kendala yang berarti.


Ayuk baca kata-kata bijak dan motivasi ( Jumat , Maret 2019 )

Ketika amarah memuncak, bersabar adalah pilihan terbaik. Marah tidak akan menyelesaikan masalah dan mengalah bukan berarti kalah.

Namun pindah-pindahnya cukup merepotkan krn kita harus pindah negara smua diurus lagi dari awal.
Ayuk baca kata-kata bijak dan motivasi ( Jumat , Maret 2019 )

cermin akan memantulkan apa yang ada di hadapannya, demikian juga hasil perbuatan kita, baik atau buruk itulah yang akan kita terima.

Ayuk baca kata-kata bijak dan motivasi ( Jumat , Maret 2019 )

cermin akan memantulkan apa yang ada di hadapannya, demikian juga hasil perbuatan kita, baik atau buruk itulah yang akan kita terima.


Ibarat pacaran, sedang-nyaman-nyamannya tetapi harus pergi. Awalnya pula depresi karena di program ini tidak ada mahasiswa Indonesia, harus adaptasi dngn perbedaan budaya mahasiswa negara-negara lain. Kalau di Jerman sendiri tantangannya itu bahasa, jikalau di luar akademik Bahasa Inggris jarang digunakan. Akan sangat susah bila misalnya teman-teman tidak bisa menggunakan basic bahasa Jerman.

Saya pribadi tidak fasih berbahasa Jerman, sebab keadaan memaksa tetapi saya paham cara memesan makanan, membayar sesuatu, atau paling urgent jikalau tersesat menanyakan arah.

DW: Apa rencana kamu kemudian lulus nanti?

Iban: Saya ingin melanjutkan karier saya sebagai researcher, setelah melakukan riset-riset ilmiah. Saya juga ingin mengambil PhD dan bekerja di suatu laboratorium. Kalau kembali ke Iindonesia saya berkeinginan bergabung bersama LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia).


(Ervan Hardoko)

(Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kisah Pemuda Buton yang Kuliah di Tiga Negara Eropa Sekaligus")

Iban: Kalau dari sisi akademik ngga ada kendala yang berarti. Namun pindah-pindahnya ckup merepotkan sebab kita mesti pindah negara semua diurus lagi dari awal. Ibarat pacaran, sedang-nyaman-nyamannya tapi harus pergi. Awalnya juga depresi sebab di program ini tak ada mahasiswa Indonesia, mesti adaptasi dngn perbedaan budaya mahasiswa negara-negara lain.


Kalau di Jerman sendiri tantangannya itu bahasa, kalau di luar akademik Bahasa Inggris jarang digunakan. Akan sangat susah kalau misalnya teman-teman tidak bisa menggunakan basic bahasa Jerman. Saya pribadi ngga fasih berbahasa Jerman, sebab keadaan memaksa tapi saya paham cara memesan makanan, membayar sesuatu, atau paling urgent bila tersesat menanyakan arah.

DW: Apa rencana kamu sesudah lulus nanti?

Iban: Saya ingin melanjutkan karier aku sebagai researcher, setelah melakukan riset-riset ilmiah.


Saya juga ingin mengambil PhD dan bekerja di suatu laboratorium. Kalau kembali ke Iindonesia saya berkeinginan bergabung bersama LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). (Ervan Hardoko)

(Artikel ini telah tayang di Kompas.com dngn judul "Kisah Pemuda Buton yang Kuliah di Tiga Negara Eropa Sekaligus")

(Artikel ini telah tayang di Kompas.com dngn judul "Kisah Pemuda Buton yang Kuliah di Tiga Negara Eropa Sekaligus")

Sekilas berita yang kami sharing, jika suka bantu sharing ya...

Sumber: www*tribunnews*com/nasional/2019/03/14/kisah+mahasiswa+asal+buton+kuliah+di+3+kampus+dan+3+negara+berbeda+bersamaan+dapat+3+gelar+master
Share Berita