Kehadiran Permukiman Kumuh Di Surabaya Pd_ Zaman Kolonial Belanda
Hari Selasa , menginformasikan mengenai "Kehadiran Permukiman Kumuh Di Surabaya Pd_ Zaman Kolonial Belanda-#h8ko6o" :

Wali Kot'a Surabaya, Tri Rismaharini mengecek, lokasi kebakaran di Jalan Margorukun, Gang Lebar, Kelurahan Gundih, Kecamatan Bubutan, Surabaya, Jawa Timur. (Foto:news.xcoid.com/Dian Kurniawan)news.xcoid.com, Jakarta Permukiman kumuh menjadi salah satu masalah yang terus dibenahi pemerintah kota di Indonesia termasuk pemerintah kot'a (Pemkot) Surabaya.

Pemkot Surabaya berupaya untuk membenahi permukiman kumuh tersebut. Pemkot Surabaya telah menyiapkan sejumlah program untuk menata permukiman kumuh start dari rumah susun sederhana, dan program nasional pemberdayaan masyarakat. Masalah permukiman kumuh di Surabaya rupanya sudah terjadi sejak zaman kolonial Belanda. Hal itu seperti dipaparkan Purnawan Basundoro dalam bukunya berjudul Dua Kot'a Tiga Zaman Surabaya & Malang, Sejak Kolonial Sampai Kemerdekaan.

Mengutip buku tersebut dalam bab penguasa & pemukiman miskin di Surabaya pd_ masa kolonial, Surabaya menjadi kota yag menarik berkaitan dngn persoalan pertanahan & permukiman. Surabaya menjdi salah satu kot'a tua di Indonesia. Surabaya mempunyai hari jadi pd_ 31 Mei 1293. Kot'a Pahlawan ini pun pernh menjadi kot'a terbesar pada abad ke-19.

Sejak itu pula pertumbuhan penduduk kot'a bergerak tajam. Pertumbuhan penduduk yang tinggi menjadikan masalah permukiman menjdi persoalan dari wa_ktu ke waktu.


Ayuk baca kata-kata bijak dan motivasi ( Selasa , Juli 2019 )

Jangan pernah berputus ada jika menghadapi kesulitan, karena setiap tetes air hujan yang jernih berasal daripada awan yang gelap.

Hal itu dimulai pada akhir abad ke-19, ketika gejala peng-kota-an mulai jelas di sana. Persoalan penyediaan tempat permukiman berkaitan erat dengan status tanah yang ada di Surabaya pada waktu itu. Hal ini terlihat jelas sejak diberlakukannya Undang-Undang Agraria pada 1870 oleh Pemerintah Kolonial.

Pada undang-undang itu dikemukakan, semua tanah yang tidak terbukti sebagai hak dan milik seseorang dinyatakan milik negara. Dengan ada aturan itu, semua tanah, juga tanah-tanah tandus & desa menjadi milik pemerintahan. Akan tetapi, pemerintah Hindia Belanda tak bisa menguasai tanah-tanah partikelir yang mulai ada jauh sebelum diterapkanya UU Agraria. Pada masa Daendls dan Raffles berkuasa, utk membagun Surabaya terpaksa menjual sebagian tanah di kota ini kepada orang-orang kaya Eropa & China.

Hasil penjualan tanah ini digunakan untuk membangun fasilitas-fasilitas yang mendukung aktivitas mereka di kota antara lain benteng Lodewijk, asrama tentara, rumah sakit tentara di Simpang, dan sebagainya. Dengan diterapkannya UU Agraria, tanah di Surabaya telah terbagi ke dalam beberapa kepemilikan yaitu swasta Eropa, orang-orang China, pemerintah & kepemilikan perorangan se_cara adat. Pada lebih dari satu kasus kepemilikan _oleh swasta Eropa sangat kuat dan luas hingga sering kali kekuatan pemeritah dalam hal regulasi pertanahan pd_ waktu itu diabaikan. Hal ini yang akhirnya ketika pemerintah kota memerlukan tanah utk berbagai keperluannya kesulitan, krn swasta juga bertindak sebagai spekulan tanah.

Salah satu contoh, masalah penting yang dinamakan vervreendings-verbond yaitu larangan utk membeli hak milik pribumi oleh orang asing. Aturan ini dimaksudkan supaya masyarakat pribumi tak terusir dari tanahnya akibat ulah pihak swasta yang mengincar tanahnya seketika itu juga mencegah pembentukan kota yang tidak diinginkan. Akan tetapi, para spekulan tanah tidak kalah pintar untuk menguasai tanah milik penduduk pribumi. Dengan berbagai cara tetap mengambil alih tanah-tanah milik pribumi.

Akibatnya Surabaya berstatus gementee pada 1906 mengalami hambatan ketika mesti mengembangkan kotanya krn kebanyakan tanah di kota ini jatuh ke tangan para tuan tanah & spekulan. Sementara di lain pihak pemerintah kota tidak mempunyai cukup uang utk membeli tanah-tanah tersebut untuk keperluan pembangunan & perluasan kota. Hal ini membawa dampak ckup serius pada proses penyediaan permukiman bagi penduduk kota. Status ini pada gilirannya juga mengundang reaksi dari penduduk pribumi yang tinggal di tanah-tanah berstatus partikelir itu.Perlakuan yang sewenang-wenang dari _para penguasa tanah telah menyebabkan penduduk pribumi mengobarkan perlawanan.

Di sisi lain, hal penting yang dilakukan oleh pemerintah kolonial berkaitan dengan penataan kawasan permukiman dengan pemisahan wilayah permukiman berdasarka ras/etnis. Ini adalah imbas dari kebijakan yang diberlakukan oleh Belanda yang tercantum dalam Regerings Reglement 1854 tentang pelapisan sosial. Lapisan pertama, orang-orang Belanda & Eropa lainnya. Lapisan kedua, orang-orang Timur Asing yaitu China, Arab dan India.

Lapisan ketiga, orang-orang pribumi. "Kebijakan ini dalam perkembangan selanjutnya bakal sangat mempengaruhi wajah kota Surabaya," seperti dikutip dari buku tersebut.

2 dari 6 halamanPemisahan Permukiman

Pemisahan permukiman itu berdasarkan etnis antara lain:

Pertama,permukiman masyarakat Belanda dan Eropa yang terletak di sekitar Jembatan Merah dan Simpang. Kompleks ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti jalan beraspal, penerangan, air bersih, kendaraan, trem listrik, kantor pos, rumah toko, barak militer, gereja & sebagainya.


"Di sini pula berdiri kantor Residen Surabaya. Perkembangan selanjutnya Jembatan Merah tumbuh menjdi pusat kegiatan perdagangan dan ekonomi Kota Surabaya," seper_ti dikutip dari buku tersebut. Karena semakin banyak org Belanda & Eropa yang datang ke Surabaya, mereka berlomba-lomba membeli tanah di sekitar wilayah ini. Meski pd_ akhirnya pemerintah kotapraja mengeluarkan larangan untuk membeli tanah milik pribumi namun pembangunan kantor, permukiman, serta toko-toko tetap berjalan.

Bahkan sebab kebutuhan akan permukiman orang Belanda dan Eropa terus meningkat, pemerintah kota Surabaya menghancurkan permukiman lama yang dihuni warga pribui dan memaksa utk pindah. Kedua, permukiman orang-orang China dan Timur Asing lainnya terletak di sebelah timur kawasa Jembatan Merah (seberang sungai kalimas). Orang-orang China menghuni kawasan Kembang Jepun, Kapasan, Pasar Atom.
Ayuk baca kata-kata bijak dan motivasi ( Selasa , Juli 2019 )

Jangan pernah berputus ada jika menghadapi kesulitan, karena setiap tetes air hujan yang jernih berasal daripada awan yang gelap.


Orang-orang Arab tinggal di kawasan permukiman di sekitar Masjid Ampel. Di kawasan sebelah timur Jembatan Merah pula tinggal orang-orang Melayu. Ketiga, penduduk asli atau pribumi tinggal di antara tanah-tanah yang tersisa atau dibalik gedung-gedung milik org Eropa.
Ayuk baca kata-kata bijak dan motivasi ( Selasa , Juli 2019 )

Bukan karena harta yang melimpah/apa yang dimilik, orang dihormati. kehormatan adalah penghargaan bagi orang yang telah memberikan sesuatu yang berarti bagi orang yang membutuhkan.


Ayuk baca kata-kata bijak dan motivasi ( Selasa , Juli 2019 )

Menyandari kekurangan diri lebih baik, daripada mengada-ngadakan apa yang tidak di miliki.

Perkampungan pribumi ini keadaannya bertolak belakang dengan kondisi permukiman masyarakat Belanda dan Eropa sehingga kadang menjdi sumber munculnya masalah kot'a seperti masalah sanitasi, keindahan kota, penyakit & lain-lain.

"Dalam konteks pemerintahan kolonial, di mana mereka lebih mengedepankan kepentingan golongan mereka (orang-orang Eropa) oleh sebab itu rakyat miskin pribumi menjdi korban pertama terutama dalam sektor permukiman," seperti dikutip dari buku tersebut.

3 dari 6 halamanPermukiman Bangsa Eropa Berbeda

Pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20, orientasi pembangunan kot'a lebih mengedepankan kepentingan orang-orang Eropa, pembangunan permukiman juga diarahkan untuk mereka. Namun, rakyat pribumi miskin di Surabaya benar-benar menjadi anak tiri dari proses perkembangan & pembangunan kota.


Pola pembangunan perumahan permanen orang-orang Eropa yang hanya dilakukan di sepanjang jalan utama, menyisakan persoalan tersendiri krn di balik permukiman orang-orang Eropa yang megah ternyata terdapat perkampungan milik masyarakat pribumi yang wujudnya sangat kontras. Dengan hak istimewa untuk mengatur kehidupan mereka, bangsa Eropa di Surabaya juga memiliki kekuasaan mutlak utk mengatur kota. Dengan hak mutlak itu, mereka bisa memilih di mana mereka akan tinggal & dengan tempat seperti apa mereka akan tinggal. "Pilihan-pilihan mereka tentu saja bakal jatuh pada tempat yang paling strategis, yaitu kawasan sepanjang tepi sungai di mulai dari kawasan sekitar Jembatan Merah menuju ke selatan," tulis buku tersebut.

Ketika kawasan Jembatan Merah, sebagai kawasan pertama Eropa, dirasakan tidak memadai lagi utk permukiman & perkantoran, dngn kekuasaan yang dimilik, mereka merencanakan utk mengembangkan ke arah selatan. Kawasan pertama yang direncanakan untuk lokasi permukiman adalah daerah Keputran. Tanah yang dialokasikan utk daerah perumahan tersebut luasnya satu juta meter persegi, dibatasi Jalan Simpang, Jalan Kayoon, Keputran, & Kaliasin. Pada 1888, tanah partikelir tsb dikuasai oleh perusahaan Bouwmaatschappij Keputran.

Perusahaan ini sesudah membangun rumahrumah dengan tujuan utk disewakan di sepanjang Palmenlaan, namun usaha itu kurang begitu lancar, hingga perusahaan tersebut memutuskan untuk menjualnya per kavling ke-pada orang-orang Eropa di Surabaya. Untuk menarik perhatian para peminat, pada lingkungan perumahan baru tsb dibuat sebuah taman yang disebut sebagai Scheepsmaker Park. "Hanya orang-orang Eropa yang bisa dan biasa menikmati keindahan taman tersebut," ujar dia. Dengan ada taman itu, kawasan tersebut dalam waktu yang tidak terlalu lama segera terjual.

Dalam wa_ktu enam tahun sudah terbangun. Daerah yang sebelumnya dinamakan Keputran Lot, pd_ 1905 sudah dikenal sebagai permukiman elite yang ditempati orang-orang Eropa. Kondisi ini jauh berbeda perkampungan pribumi sesaat itu. Rumah-rumah dibangun seadanya seper_ti tiang dari kayu, bamboo, pagar dibuat dari bambu yang dianyam.

Sedangkan bagi yang cukup mampu mereka membuat pagar dari kayu & batu bata seadanya. Atap biasanya dari daun ilalang atau bagi yang cukup mampu biasanya dari genteng tipis berharga murah.Lantai-lantainya masih berwujud tanah tanpa pelapis. Lingkungan perkampungan biasanya memiliki kesan kuat sebagai permukiman kumuh yang tidak tertata.

"Lingkungan semacam ini smpai 1920-an memang ngga tersentuh oleh campur tangan pemerintah kolonial dalam hal penataan kampung dan permukinan," seper_ti dikutip dari buku tersebut.

4 dari 6 halamanPenduduk Surabaya Melonjak Dua Kali Lipat pada 1906-1930

Sejak Surabaya ditetapkan sebagai gementee pada 1906, kot'a ini dengan cepat berkembang sangat pesat.


Secara fisik, Surabaya mengalami perluasan ke segala arah khususnya ke arah selatan.
Ayuk baca kata-kata bijak dan motivasi ( Selasa , Juli 2019 )

Menyandari kekurangan diri lebih baik, daripada mengada-ngadakan apa yang tidak di miliki.

Perluasan kota ini salah satunya merupakan dampak dari pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi. Dalam jangka wa_ktu 25 tahun, sejak 1906-1930, jumlah penduduk kota Surabaya telah melonjak dua kali lipat.

Pd_ 1906, penduduk kota ini hanya berjumlah 150.188 orang, tapi pada 1930 telah menjadi 331.509 orang. Golongan penduduk yang mengalami jumlah kenaikan ckup signifikan ialah golongan Eropa. Pd_ 1906, org Eropa yang tinggal di Surabaya hanya 8.663 orang dan pada 1930 menjdi 26.376 melonjak tiga kali lipat. "Lonjakan yang amat cepat tersebut salah satunya dipengaruhi arus urbanisasi dan industrialisasi di kot'a ini," seperti dikutip dari buku tersebut.

Ayuk baca kata-kata bijak dan motivasi ( Selasa , Juli 2019 )

iri hati, selain membawa penderitaan, juga menjerumuskan manusia ke jurang permusuhan bahkan peperangan.

Surabaya yang telah berkembang pesat sejak era liberalisasi ekonomic pada 1870 telah menjadi salah satu tujuan utama _para pendatang dari pedesaan yang ingin mengadu nasib. Salah satu lokasi yang favorit bagi para pendatang dari pedesaan di sekitar Surabaya ialah Pelabuhan Tanjung Perak di utara kota. Para pendatang dari pedesaan ini terjebak pd_ masalah permukiman yang pelik.

Para pendatang ke Surabaya tanpa kemampuan utk membeli tanah yang bisa didirikan rumah utk tempat tinggal yang layak. Hal itu membuat sejumlah alternatif yang akhirnya dijalan untuk sekadar bisa bertahan di kot'a dan sekadar berteduh.
Ayuk baca kata-kata bijak dan motivasi ( Selasa , Juli 2019 )

Semakin baik kamu menata perilaku, semakin banyak kebaikan yang kamu kemas ke dalam hidup.

Kemudian hingga awal abad ke-20, sebagian besar permukiman penduduk pribumi di Surabaya dalam kondisi mengenaskan.

5 dari 6 halamanKampung di Surabaya

Kampung-kampung di Surabaya merupakan permukiman apa adanya tanpa fasilitas memadai sebagai hunian di perkotaan.


Kampung-kampung selalu dipenuhi para pekerja yang tidak mampu menemukan lokasi tidur. Pasar-pasar pula dipenuhi oleh mereka, dan dengan alas seadanya tidur di lantai.
Ayuk baca kata-kata bijak dan motivasi ( Selasa , Juli 2019 )

Kecantikan hakiki bukan dari wajah, melainkan terpancar dari hati.

Hidup di kampung yang dekat dengan tempat kerja memberikan keuntungan kepada para pekerja utk dapat menyimpan biaya pengeluaran utk ongks trem yang menyerap sebagian besar pendapatan para pekerja perkotaan yang sudah sekedar itu.

Kampung-kampung semacam itu juga merugikan bagi _para penghuninya. Hal ini krn sangat rawan terkena penyakit. Sebagian besar kampung-kampung di bagian utara Surabaya, yang dekat pelabuhan ialah perkampungan di tepi rawa. Bagi _para buruh pendatang dari pedesaan, meski tinggal di perkampungan miskin kumuh, padat dan senantiasa mengancam jiwa sebab dikerubuti berbagai macam penyakit, para buruh merasa nyaman terutama jikalau dibandingkan apa jikalau hidup di desa dengan penghasilan yang tidak jelas.

Tidak jarang juga para pendatang dari pedesaan tak bisa mendapatkan pekerjaan di Surabaya hingga harus rela tidur di kolong-kolong jembatan. Gambaran mengenai orang miskin, pengemis & gelandangan pd_ awal abad ke-20 di Surabaya yang direkam bernama si Tjerdik dalam bukunya Melantjong ka Soerabaia. Munculnya perkampungan kumuh di perkotaan pula tidak bisa dilepaskan dari keberadaan orang-orang Barat. Ini seperti dikatakan _oleh P.J.M Nas, misalnya.

Meningkatnya jumlah orang Barat yang membutuhkan ruang hidup di kota adalah satu alasan yang menimbulkan apa yang disebut sebagai masalah perkampungan. Para pendatang baru yang semakin lebih dari satu mengambil lahan di pinggir-pinggir kampung yang secara signifikan mengurangi ruang yang tersedia bagi tempat permukiman penduduk asli. Hal ini juga dipadu dengan pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat mengakibatkan tingginya kepadatan penduduk di daerah ini. Setelah sering kali mengubah perkampungan pedesaan di tepi kota menjadi perkampungan kumuh yang berada di tengah kota.

Kondisi permukiman pribumi yang kumuh sebenarnya tidak hanya terjadi di Surabaya. Hampir di smua kota terutama kota-kota pantai pd_ saat itu warga pribumi tinggal di permukiman kumuh yang berada di balik permukiman elite milik bangsa Eropa. Di Semarang, misalnya Kampung Tiang Beddera, Kampung Sekolaan yang berada di tepi Kali Semarang atau Kampung Jomblang Perbalen yang merupakan contoh jampung miskin & kumuh. Kemudian pd_ 1910, bahaya penyakit pes start menyebar ke permukiman Eropa yang kemudian mmbuat mereka kaget.

Jari telunjuk mereka pun diarahkan ke-pada permukiman penduduk asli sebagai biang keladi dari penyebaran penyakit tersebut/

"Mereka baru menyadari bahwa kondisi ngga higienis di kampung-kampung itu bisa berdampak negatif terhadap permukiman org barat yang bertetangga dengan kampung itu," seper_ti dikutip dari buku tersebut. Untuk menghindari supaya penyakit yang oleh orang-orang Eropa dianggap berasal dari permukiman pribumi meluas, mesti diciptakan agen yang menyebarluaskan "ideologi sehat" untuk melawan perilaku buruk yang mengandung "ideologi sakit: Salah satu agen tsb adalah Hendrik Freek Tillema, Herman Thomas Karsten, dan beberapa tokoh barat lainnya.

Kedua tokoh ini juga memiliki pengaruh amat besar bagi perbaikan kota-kota di Indonesia pada masa kolonial.

6 dari 6 halamanSaksikan Video Pilihan di Bawah Ini
'
Setelah dinyatakan sembuh _oleh dokter, Wali Kot'a Surabaya Tri Rismaharini diperbolehkan keluar dari RSUD Dokter Soetomo. Risma selanjutnya akan menjalani pemulihan di rumah dinas Wali Kota Surabaya.

( info meta data berita ini, kehadiran,permukiman,kumuh,di,surabaya,pd_,zaman,kolonial,belanda, pribumi, orang-orang, penduduk, pemerintah, kawasan, perkampungan )

Sumber: s://surabaya*liputan6*com/read/4013215/kehadiran+permukiman+kumuh+di+surabaya+pada+zaman+kolonial+belanda
Share Berita