KPK Tutur Kode Uang Jajan Miryam S Haryani Dalam Pengembangan Kasus Korupsi E-KTP
Tahun 2019, informasi tentang "KPK Tutur Kode Uang Jajan Miryam S Haryani Dalam Pengembangan Kasus Korupsi E-KTP-#2f19ys (berita hari Selasa ,Agustus ) ", kami sampaikan informasi lengkapnya :

Laporan Wartawan news.xcoid.com, Ilham Rian Pratama

news.xcoid.com, JKRTA Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan mantan anggota komisi II DPR Miryam S Haryani (MSH) sebagai tersangka baru dalam kasus dugaan korupsi proyek pengadaan e-KTP tahun anggaran 2011-2013.

KPK mengungkap adanya penggunaan kode uang jajan dalam perkara korupsi e-KTP yang menyeret Miryam S Haryani.

Dalam hal ini, Miryam diduga meminta uang USD100 ribu ke-pada mantan Dirjen Dukcapil Kemendagri Irman dengan kode uang jajan.


Ayuk baca kata-kata bijak dan motivasi ( Selasa , Agustus 2019 )

Kau bisa bersembunyi dari kesalahanmu, tapi tidak dari penyesalan. Kau bisa bermain dengan dramamu, tapi tidak dengan karmamu.

"Tersangka MSH juga meminta uang denga kode uang jajan kepada IRMAN sebagai Dirjen Dukcapil yang menangani E-KTP," ujar Wakil Ketua KPK Saut Situmorang di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Selasaa (13/8/2019).

Baca: Kaum Milenial Sudah Bisa Ikut Berkurban Sapi Ckup Rp 1 Juta

Baca: Kronologi SPG Bali Tewas Sudah Berhubungan Intim, Hasil Otopsi Hingga Motif Pelaku

Baca: Dituduh Aniaya Dipo Latief, Nikita Mirzani: Enggaklah, Gua Sayang Banget Sama Dia

Miryam Haryani diduga meminta uang jajan sebesar USD100 ribu ke-pada Irman untuk rekan-rekannya di komisi II DPR. Miryam mengklaim uang tersebut untuk kunjungan kerja.
Penyerahan uang tsb dilakukan di kawasan Pancoran, Jkrta Selatan.


"Permintaan uang tsb ia atasnamakan rekan-rekannya di Komisi II yang akan reses," ucap Saut.
Ayuk baca kata-kata bijak dan motivasi ( Selasa , Agustus 2019 )

Segala memiliki awal pasti memiliki akhir.

Saut mengatakan, Miryam diduga telah menerima beberapa kali uang dari Irman dan Sugiharto yang diduga terkait kasus korupsi e-KTP.

Penerimaan uang tersebut terjadi sepanjang tahun 2011-2012.

"Sebagaimana telah muncul di fakta persidangan dan pertimbangan hakim dalam perkara dengan terdakwa Setya Novanto, MASIH diduga diperkaya USD1,2 juta terkait proyek EKTP ini," ujarnya.

Baca: KPK Tetapkan 4 Tersangka Baru Kasus Korupsi e-KTP, Ini Nama-namanya

Baca: Percaya Diri Punya Suara Unik, Barbie Kumalasari Sudah Rencanakan Konser dan Tur ke Luar Negeri

Selain Miryam, KPK pula menetapkan tiga tersangka baru lainnya dalam kasus yang merugikan negara sekira Rp2,3 triliun ini.


Ketiganya yakni, Direktur Utama Perum Percetakan Negara RI (PNRI) Isnu Edhi Wijaya, PNS BPPT Husni Fahmi, & Direktur Utama PT Sandipala Arthaputra Paulos Tannos.


'

Keempatnya disangkakan melanggar Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 mengenai Pemberantasan Tipikor sebagaimana telah diubah dngn UU Republik Indonesia Nomor 20 Thn 2001 Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 Juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP. Sebelumnya, KPK telah lebih dulu menetapkan delapan orang sebagai tersangka kasus korupsi proyek pengadaan e-KTP. Delapan orang tersebut yakni, Irman, Sugiharto, Anang Sugiana Sudihardjo, Setya Novanto, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo, Andi Narogong, Made Oka Masagung, dan Markus Nari.


Lapas Pondok Bambu

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan eksekusi terhadap dua terpidana kasus korupsi ke dua lembaga pemasyarakatan (Lapas).


Terpidana pertama yang dieksekusi ke lapas adalah mantan anggota DPR Miryam S Haryani.

Miryam dieksekusi sebagai terpidana kasus perbuatan memberikan keterangan palsu dalam persidangan kasus korupsi E-KTP.

"(Miryam) dipindahkan ke Lapas Perempuan Klas II A Jakarta (Pondok Bambu)," ujar Febri melalui pesan singkat. Miryam divonis 5 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Tipikor Jakarta dan diwajibkan membayar denda Rp 200 juta subsider 3 bulan kurungan.

Baca: Rita Widyasari Tutur Curhat Miryam Selama di Sel, Suka Gosip dan Sedih Lihat Berita Tentang Hanura

Sedangkan terpidana kedua adalah mantan General Manager PT Jasa Marga cabang Purbaleunyi, Setia Budi.


Setia Budi ialah terpidana dalam kasus suap pemberian motor Harley Davidson Sportster 883 kepada auditor Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Sigit Yugoharto. Pemberian motor Harley tsb diduga sebagai suap dari Setia utk Sigit, terkait temuan PDTT _oleh BPK tahun 2017. "(Setia Budi) dipindahkan ke Lapas Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat," kata Febri. Setia Budi divonis 1,5 thn penjara _oleh majelis hakim pada Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kaamis (8/3/2018). Setia Budi juga diwajibkan membayar denda Rp 50 juta subsider 2 bulan kurungan.

Ayuk baca kata-kata bijak dan motivasi ( Selasa , Agustus 2019 )

Anda akan menjadi orang yang tersisihkan jika tidak siap menghadapi perubahan.

Sempat cari-cari Irman

Dalam kesaksiannya, mantan Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri, Diah Anggraini mengakui pernah dihubungi anggota DPR, Miryam S Haryani.

Diah pun mengiyakan pernah ditemui Miryam. Hal tsb diungkapkan Diah sesaat bersaksi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (29/1/2018).

Ayuk baca kata-kata bijak dan motivasi ( Selasa , Agustus 2019 )

Jangan berjalan dimuka bumi dengan penuh kesombongan dan congkak karena sebentar lagi engkau akan masuk kedalam bumi juga.


Diah bersaksi utk terdakwa mantan Ketua DPR RI, Setya Novanto.

Baca: Zulkifli Hasan Perintahkan Pengurusnya yang Tidak Hadir Sesaat Verifikasi Faktual Segera Menghadap KPU

Baca: Pemilihan Penjabat Gubernur dari TNI atau Polri Pernah Dilakukan Ketika Zaman SBY

"Saya pernah dihubungi & dia (Miryam) menanyakan Irman," tutur Diah ke-pada majelis hakim. Menurut Diah, Miryam saat itu menanyakan keberadaan Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Irman. Miryam kesulitan menghubungi Irman.


Selain menghubungi melalui telepon, menurut Diah, Miryam pula datang ke Kantor Kemendagri di Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta. Miryam bermaksud menemui Irman. "Lalu saya tanya, _ada apa sih Bu Yani? La_lu dia jawab, Ini, aku dikejar teman-teman, mau reses," kata Diah.

Baca: Sambut Verifikasi Faktual, SBY Serahkan KTP Ke-pada Ketua KPU

Baca: Oesman Sapta Tegaskan Kepengurusan Partai Hanura Di Luar SK Kemenkumham Ilegal

Kepada majelis hakim, Diah mengatakan, pada saat itu ia tidak paham maksud keperluan Miryam dengan Irman soal keperluan reses anggota DPR. Sebelumnya, dua mantan pejabat Kementerian Dalam Negeri, Irman & Sugiharto, mengaku bahwa Miryam S Haryani pernh meminta uang terkait proyek pengadaan Kartu Tanda Penduduk berbasis elektronik (e-KTP). "Pak Irman minta supaya dikasih kepada Miryam.

Ayuk baca kata-kata bijak dan motivasi ( Selasa , Agustus 2019 )

Kehidupan akan membawa seseorang pada jalan yang dipilihnya. Pilihan yang tepat takkan pernah mendatangkan penyesalan.


Perintah itu disampaikan di ruang kerja Pak Irman, ucapnya untuk reses anggota DPR," tutur Sugiharto bbrp waktu lalu. Sugiharto mengiyakan tiga kali mengantarkan uang ke kediaman Miryam di Tanjung Barat, Jkrta Selatan. Sementara, satu kali penyerahan uang dilakukan oleh staf di Kemendagri, Yoseph Sumartono. Menurut Sugiharto, total pemberian kepada Miryam sebesar 1,2 juta dollar AS.

Saat dikonfirmasi, Irman membenarkan keterangan Sugiharto. Menurut dia, awalnya Ketua Komisi II DPR Chairuman Harahap meminta uang kepadanya utk membiayai reses anggota DPR. Namun, Irman yang saat itu menjabat Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil menolak permintaan Chairuman.

Beberapa miinggu setelah itu, menurut Irman, Miryam menghubunginya utk permintaan yang sama.

"Lalu aku tanya, _ada apa sih Bu Yani?


Lalu dia jawab, Ini, aku dikejar teman-teman, mau reses," kata Diah.

Baca: Sambut Verifikasi Faktual, SBY Serahkan KTP Kepada Ketua KPU

Baca: Oesman Sapta Tegaskan Kepengurusan Partai Hanura Di Luar SK Kemenkumham Ilegal

Kepada majelis hakim, Diah mengatakan, pd_ saat itu dia tidak paham maksud keperluan Miryam dengan Irman soal keperluan reses anggota DPR. Sebelumnya, dua mantan pejabat Kementerian Dalam Negeri, Irman dan Sugiharto, mengaku bahwa Miryam S Haryani pernah meminta uang terkait proyek pengadaan Kartu Tanda Penduduk berbasis elektronik (e-KTP). "Pak Irman minta agar dikasih kepada Miryam.


Perintah itu disampaikan di ruang kerja Pak Irman, ucapnya untuk reses anggota DPR," ujar Sugiharto beberapa waktu lalu. Sugiharto mengakui tiga kali mengantarkan uang ke kediaman Miryam di Tanjung Barat, Jkrta Selatan. Sementara, satu kali penyerahan uang dilakukan _oleh staf di Kemendagri, Yoseph Sumartono. Menurut Sugiharto, total pemberian kepada Miryam sebesar 1,2 juta dollar AS.

Saat dikonfirmasi, Irman membenarkan keterangan Sugiharto. Menurut dia, mulanya Ketua Komisi II DPR Chairuman Harahap meminta uang kepadanya untuk membiayai reses anggota DPR. Namun, Irman yang saat itu menjabat Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil menolak permintaan Chairuman.

Beberapa miinggu setelah itu, menurut Irman, Miryam menghubunginya untuk permintaan yang sama.

Menurut dia, awalnya Ketua Komisi II DPR Chairuman Harahap meminta uang kepadanya untuk membiayai reses anggota DPR.


Namun, Irman yang saat itu menjabat Direktur Jenderal Kependudukan & Pencatatan Sipil menolak permintaan Chairuman. Beberapa miinggu setelah itu, menurut Irman, Miryam menghubunginya utk permintaan yang sama.


Sumber: https://www*tribunnews*com/nasional/2019/08/13/kpk+ungkap+kode+uang+jajan+miryam+s+haryani+dalam+pengembangan+kasus+korupsi+e+ktp
Share Berita